Sabtu, 13 Juni 2015

BARA API MIMPI


Begitu berat hati berbisik
Tidak mudah sang kepala melupakan
Saat di mana wajah dua orang insan bermuajhah
Insan yang sedang menjalin bahtera romantika cinta
Terucap ikrar janji setia
Yang keluar dari bibir yang begitu merona
Janji setia
Menjalin bahtera cinta
Tatapan begitu indah berkaca
Saling menatap wajah sang belahan jiwa
Yang diselubungi bahtera asmara
Yang memenuhi ronga dada
Tapi sayang itu hanyalah masa lalu
Masa dimana sang insan sedang bersatu
Dalam satu cinta suci yang begitu indah terpadu
Sekarang semuanya tinggal sayatan hampa
Tersisa mimpi yang sudah menjadi api
Harapan yang sudah berubah jadi bara
Yang membakar semangat untuk hidup
Mengapa....
Apakah ini takdir
Kenapa..
Kenapa takdir begitu kejam
Harapan
Kemana harapan yang lalu
Kemana tidur membawa mimpi manis dulu
Apakah aku sudah terbangun
Sehingga tidak menemukan mimpiku dalam kenyataan hidup
Ahh biarlah
Biarlah mimpi terbawa angin malam
Biarlah harapan terkikis sang bara
Karna takdir memang berkada demikian
Sabar
Apakah takdir harus selalu diberikan kesabaran
Mimpi sejati
Yang tinggal hanya kenangan yang akan abadi
Di dalam hati yang penuh rasa benci
Entah pada siapa aku harus benci
Kemana rembulan menanyakan sinar
Apakah matahari ingin cepat berlalu
Sehingga memakan mimpi-mimpiku
Entah kenapa
Aku tidak mengerti tentang semuanya

Rumah filosof 10 juni 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar