Begitu berat hati
berbisik
Tidak mudah sang
kepala melupakan
Saat di mana wajah
dua orang insan bermuajhah
Insan yang sedang
menjalin bahtera romantika cinta
Terucap ikrar janji
setia
Yang keluar dari
bibir yang begitu merona
Janji setia
Menjalin bahtera
cinta
Tatapan begitu indah
berkaca
Saling menatap wajah
sang belahan jiwa
Yang diselubungi
bahtera asmara
Yang memenuhi ronga
dada
Tapi sayang itu
hanyalah masa lalu
Masa dimana sang
insan sedang bersatu
Dalam satu cinta suci
yang begitu indah terpadu
Sekarang semuanya
tinggal sayatan hampa
Tersisa mimpi yang
sudah menjadi api
Harapan yang sudah
berubah jadi bara
Yang membakar
semangat untuk hidup
Mengapa....
Apakah ini takdir
Kenapa..
Kenapa takdir begitu
kejam
Harapan
Kemana harapan yang
lalu
Kemana tidur membawa
mimpi manis dulu
Apakah aku sudah
terbangun
Sehingga tidak
menemukan mimpiku dalam kenyataan hidup
Ahh biarlah
Biarlah mimpi terbawa
angin malam
Biarlah harapan
terkikis sang bara
Karna takdir memang
berkada demikian
Sabar
Apakah takdir harus
selalu diberikan kesabaran
Mimpi sejati
Yang tinggal hanya
kenangan yang akan abadi
Di dalam hati yang
penuh rasa benci
Entah pada siapa aku
harus benci
Kemana rembulan
menanyakan sinar
Apakah matahari ingin
cepat berlalu
Sehingga memakan mimpi-mimpiku
Entah kenapa
Aku tidak mengerti
tentang semuanya
Rumah filosof 10 juni
2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar