BERJABAT TANGAN DENGAN FILSAFAT YUNANI[1]
Oleh: Ach Dhofir Zuhry[2]
”...Manusia yang paling celaka
adalah yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tah...”
Al-Ghazali (w.505 H/1111 M)
I. Alam Pikir Falsafi
Sejauh
ini, filsafat bagi sementara orang kurang begitu down to earth alias
kurang membumi, sehingga tidak begitu diminati dan diakrabi. Dengan lain
kata, filsafat masih ”dianggap” terlalu mythos dan terlampau logos.
Mempelajari dan memasuki alam pikir falsafi seringkali dianggap
buang-buang waktu dan tidak jarang membuat seseorang menjadi ”gila”,
teralienasi dan menyusuri jalan-jalan sunyi kehidupan. Orang kebanyakan
an sich lebih tertarik mempelajari ekonomi, hukum, kedokteran maupun
pendidikan yang aplikasi dan orientasi kerjanya jelas, padahal filsafat
adalah embrio dari segala ilmu.
Namun demikian, ketika seseorang
dapat berpikir logis, sistematis dan rasional sejatinya ia telah
berfilsafat. Seorang petani, misalnya, ketika menjalani aktifitas
pertanian dengan penuh perencanaan dan perhitungan, maka ia telah
menerapkan filosofi bertani yang baik dan benar. Dalam hal ini filsafat
lebih diposisikan sebagai metode dan alat, sehingga bagi petani (karena
saya sendiri adalah petani), filsafat adalah ”cangkul” dan ”cara
mencangkul yang benar”. Manakala seorang petani tahu dan memiliki
cangkul yang proporsional (ontologi) dan bisa mencangkul secara
prosedural (epistemologi) dan lantas merawat tanamannya dengan baik
tentu hasil taninya akan maksimal (aksiologi). Maka, jadilah ia petani
yang philosophia alias filsuf pertanian.
Dengan demikian, memasuki
alam pikir falsafi sangat mudah dan sederhana, tidak harus cerdas
(apalagi jenius), modalnya cuma satu dan gratis, yakni sikap kritis.
Dan, ini bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan di manapun.
Bagaimana itu bisa dilakukan? Marilah kita jalan-jalan ke Yunani.
II. ”Mencangkul” di Yunani
Anda tentu pernah bertanya kapan, di mana, dari mana dan bagaimana proses lahirnya filsafat?
Yunani,
khususnya penduduk di sana, tentu saja tidak serta-merta menjadi para
filsuf dan langsung mengemukakan teori-teori filsafat. Mereka adalah
masyarakat polis yang normal, tradisional, boleh dikatakan primitif
alias jahiliyah, karena memang sangat memberhalakan mitos-mitos para
dewa, leluhur dan alam semesta. Namun dengan banyaknya penduduk yang
merantau (sekaligus belajar) ke luar Yunani serta tidak sedikit pula
pelancong dan pedagang yang datang melintas ke Asia kecil (sekarang
Turki) dan semenanjung Arabia, maka ramailah Yunani raya, tepatnya sejak
abad ke-5 SM.
Sebenarnya jauh sebelum Yunani diramaikan oleh
filsafat, manusia (terutama para Nabi, para guru dan penganjur
kasalehan) telah berfilsafat dan memandang alam raya ini dengan sikap
kritis dan cara pandang yang tidak sempit. Jika demikian, manusia yang
pertama kali bersilsafat (dan berpengetahuan) tentulah Nabi Adam a.s.
Bersama gerak sang waktu sampailah manusia pada peradaban Nuh a.s (+
4-5000 SM) bersama anaknya, Syam dan Ham mendirikan peradaban di Syiria
dan sekitarnya. Nuh a.s adalah generasi ke-9 dari Adam a.s. Selanjutnya
Ibrahim a.s dan Ismail a.s (+ 2-3000 SM) membangun peradaban di
Palestina dan Mekah, tak lama berselang peradaban Mesir kuno dan
Babilonia (Irak) juga berkembang bahkan sampai ke Yunani pengaruhnya. Di
bidang Astronomi dan Matematika orang-orang Yunani berhutang budi pada
Mesir dan Irak.
Kemudian pada 2500-1500 SM di Tibet dan semenanjung
Arabia, bangsa Dravida membangun peradaban Lembah Indus, dinasti Shang
pada 1523-1027 SM membangun peradaban China, kemudaian pada abad ke-13
SM nabi Musa a.s membangun peradaban bangsa Israel dengan menghancurkan
tirani raja Ramses II alias Fir’aun (1304-1274 SM)[3] dan pada abad
ke-10 SM Daud a.s dan puteranya, Sulaiman a.s mendirikan negara
Palestina dan membangun Masjid al-Aqsha, itulah kenapa masjid ini
disebut Haykal Sulaiman atau Salomon Tample (kuil Sulaiman), kemudian
pada abad ke-6 SM Siddharta Gautama (l. 563 SM) mengajarkan agama Budha
di India, selanjutnya Laozi mengajarkan filsafat Tao dan pada 551 SM
Guru Kung alias Kong Hu Cu lahir dan mengajarkan filsafat Konghucu. Pada
abad ke-6 SM inilah filsafat Yunani lahir. Selanjutnya abad ke-1 M
berdiri peradaban Funan di Kamboja[4] dan pada tahun 450 M di Indonesia
sudah berdiri kerajaan Kutai Kertanegara dan 50 tahun kemudian berdiri
kerajaan Tarumanegara.
Nah, filsafat Yunani lahir dari rahim mitologi
dewa-dewa dan alam semesta. Dari mythos itulah orang-orang macam
Pythagoras (+580-500 SM), Xenophanes (+570-480 SM), Herakleitos (540-475
SM), Protagoras (480-411 SM), Sokrates (499-399 SM), Plato (427-347 SM)
dan Aristoteles (384-322 SM) menjadikannya logos, rasional berdasarkan
akal budi dan pengetahuan. Secara garis besar yang dapat ”dicangkul”
dari Yunani adalah tradisi kritis, yakni mendobrak kesalahan publik dan
membongkar kebohongan mitos-mitos para dewa dan alam semesta.
III. Berkenalan dengan Ustadz Sokrates, Plato dan Aristoteles
Sokrates, disebut ustadz karena ia adalah guru besar yang banyak
menanamkan pengaruh signifikan bagi filsuf sesudahnya. Sokrates,
sekalipun lahir dari keluarga terpandang—ibunya seorang dukun beranak
dan bapaknya (ada yang mengatakan pematung)—tapi ia lebih senang hidup
menggelandang menyusuri pasar dan keramaian untuk berdialegestai
(berdialog) dengan semua kalangan, termasuk kaum Sofis. Sokrates selalu
bersikap kritis dan mempertanyakan banyak hal dalam dialog-dialognya, di
antaranya adalah: apa kebaikan itu? apa hidup yang baik itu? bagaimana
seorang bisa mendapatkan eudaimonia (kebahagiaan)? Manusia harus punya
arete (kebajikan, moral). Mempunyai arete, bagi Sokrates berarti
memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia[5]. Inilah inti ajaran
filsafat Sokrates, yakni filsafat manusia. Doktrin Sokrates yang paling
terkenal yakni: keutamaan adalah pengetahuan.
Ustadz Sokrates tidak
berpolitik, karena saat itu polis sangat erat dengan keyakinan tentang
dewa-dewa dan mitologi Yunani kuno. Sokrates menganggap mitos-mitos yang
berkembang di Yunani tidaklah benar, baginya mitologi hanyalah ciptaan
penyair-penyair yang penuh kebohongan dan mengharap imbalan dari
penguasa. Dari sanalah corak filsafat Sokrates sangat kental. Akhirnya,
karena tidak percaya pada dewa-dewa yang diakui oleh pemerintah polis
Athena itulah pada usia 70 tahun Sokrates mengakhiri hidupnya dengan
minum racun dalam penjara setelah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan
Athena.
Setelah meninggalnya sang ustadz, Plato meneruskan ajaran dan
tradisinya dalam berdialog dan mengarang dialog, bahkan sebagian besar
karyanya, kecuali Apologia, adalah dialog-dialog. Plato sangat
dipengaruhi Sokrates dalam berfilsafat, bahkan seluruh aliran darah
Plato adalah sokratik, ia cenderung mencari aspek-aspek dialogis dari
segala realitas dan gejala, sehingga bagi Plato, filsafat adalah dialog.
Tak lama setelah kembali dari Italia, ia mendirikan sekolah yang diberi
nama ”Akademia”, nama ini ia dedikasikan bagi seorang pahlawan Yunani
bernama Akademos. Yang membedakan Sokrates dengan Plato adalah Sokrates
tidak mengajar, hanya berdialog sedangkan Plato intensif mengajar, hanya
saja Plato tidak begitu frontal menentang mitos-mitos, malah dalam
karya-karya Plato banyak terdapat mitologi.
Inti filsafat Plato
adalah ide, baginya ide-ide bukanlah sesuatu yang subyektif berupa
gagasan belaka, akan tetapi obyektif, terlepas dari subyek berpikir.
Bagi Plato ide tidak diciptakan dari pemikiran, justru sebaliknya,
pemikiranlah yang tergantung pada ide-ide. Pemikiran tidak lain dari
pada menaruh perhatian pada ide-ide.
Dalam karyanya berjudul
Politeia, Plato mengatakan bahwa terdapat hierarki dalam ide-ide, dan
seluruh hierarki itu akhirnya memuncak pada ide ”yang baik”. Dalam karya
yang lain, Shopistes, Plato mengatakan bahwa pada puncak ”dunia ideal”
terdapat lima ide (ada, identik, lain, diam dan gerak), kelimanya
menghubungakan semua jaringan ide.
Filsafat Plato ini kemudian banyak
dikritisi oleh muridnya, Aristoteles. Ia lahir—15 tahun setelah
kematian Sokrates—di Stageira, Yunani utara pada 384 SM[6] dan tinggal
di istana raja Makedodia, Amyntas II sampai usia 17 tahun dan lantas
berguru pada Plato. Meski ia belajar di Akademi Plato selama 20 tahun,
tapi dalam hampir semua karyanya ia justru bertentangan dengan gurunya.
Namun Aristoteles tidak menghilangkan tradisi dialog yang sudah dirintis
oleh ustadz Sokrates dan Plato. Dengan banyak mengkritisi para filsuf
sebelumnya Aristoteles menjadi filsuf terbesar yang karyanya mencakup
banyak aspek keilmuan, seperti logika, metafisika, ilmu bumi, politik
dan retorika, serta ekonomi dll.
Filsafat Aristoteles dibagi dalam
tiga periode. Pertama ketika ia masih di Akademia, ia sangat mengagumi
Plato, kedua sewaktu berada di Assos dan istana Pella, ia berbaik
menyerang gurunya dan ketiga, sewaktu mengajar di sekolah Lykeion di
Athena, Aristoteles lebih tertarik pada filsafat spekulatif dan
penelitian empiris. Dalam karyanya yang berjudul Metaphysica, terutama
pada bab XIII dan XIV, Aristoteles dengan gencar mengkritik dan
menyangkal ajaran Plato tentang ide. Bagi Aristoteles, Plato terlalu
sibuk dengan ide (bentuk) dari segala realitas. Ajaran Plato bahwa ide
(bentuk) realitas seluruhnya bersifat umum tidak benar, sebab ide
bersifat individual dan tidak universal. Contoh, kalau ”bentuk” manusia A
dan B memang berdiri sendiri, maka bentuk ini merupakan individu,
artinya baik A maupun B sama-sama individu. Jika demikian, nantinya akan
ada individu ketiga (tritos antropos) yang bisa saja menyamai individu A
dan B maupun yang lain. Begitulah seterusnya, D seperti C, E seperti D,
Y seperti X, sampai tak terbatas.
Aristoteles perpendirian bahwa
setiap ide tertuju pada materi, tidak mungkin bisa dilepaskan. Sebab ide
adalah esensi suatu benda atau realitas, apapun itu. Sehingga esensi
tidak bisa berdiri sendiri, dan yang ada dalam kenyataan adalah
benda-benda konkret saja. Proses ini disebut abstraksi. Contoh, ketika
petani mengatakan, ”saya mau mencangkul”, itu bukan berarti cangkul ada
dalam pikiran petani, tidak. Yang ada dalam pikirannya hanyalah gambaran
tentang cangkul dan rencana mencangkul. Nah, karena adanya proses
abstraksi inilah ilmu pengetahuan dimungkinkan, tanpa mengandaikan
ide-ide gaya Plato. Selanjutnya Aristoteles membagi ilmu pengetahuan
dalam tiga golongan, yakni pengetahuan praktis, produktif dan teoritis.
Namun ironisnya, logika, bagi Aristoteles tidak termasuk dalam ilmu
pengetahuan, di bidang logika inilah Aristoteles menjangkarkan konsep
besarnya mengenai deduksi, induksi dan silogisme. Demikian, Allaahu
yuwaffiqunaa ilaa sabiilil-anbiyaa’ wal mursaliin.
*
[1]
Disampaikan dalam Diskusi Sejarah Filsafat Yunani pengurus Komisariat
PMII Univ. Kanjuruhan Malang, 11 Dzul Qa’dah 1431 H/19 Oktober 2010
[2]
Ach Dhofir Zuhry, Petani dan Peternak, sambil bertani menjadi
direktur Avennasar Institute, bukunya yang sudah terbit Tersesat di
Jalan yang Benar (Kalam Mulia, 2007), Terjemah Shalawat Haji: Tahni’ah
Li Qudumi Hujjaj Bayt al-Haram, Istighotsah dan Tafsir az-Zuhry vol. I
(Nurudh-Dholam Institute, 2006) dan A’malul Yaumiyah (YND Jakarta,
2010). Kumpulan cerpen Para Nabi Dalam Botol Anggur insya Allah akan
terbit di Intrans Malang akhir tahun ini, kumpulan puisi Orgasme dan
Matahari Tumbuh Dari Senyummu, sedang dipersiapkan untuk terbit.
[3] Lih. Ismail dan Lamya’ R. Al-Faruqy, Cultural Atlas of Islam. New York: MacMilian, 1986. hlm. 52-55.
[4] Nigel Kelly & Goh Phay Yen, Discovering History (pen. R. Effendi), Jakarta: Moyo Segoro Agung 1999, hlm. 31-34
[5] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta: Kanisius 1999. hlm. 104-111
[6] Ibid. 154BERJABAT TANGAN DENGAN FILSAFAT YUNANI[1]
Oleh: Ach Dhofir Zuhry[2]
”...Manusia yang paling celaka
adalah yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tah...”
Al-Ghazali (w.505 H/1111 M)
I. Alam Pikir Falsafi
Sejauh
ini, filsafat bagi sementara orang kurang begitu down to earth alias
kurang membumi, sehingga tidak begitu diminati dan diakrabi. Dengan lain
kata, filsafat masih ”dianggap” terlalu mythos dan terlampau logos.
Mempelajari dan memasuki alam pikir falsafi seringkali dianggap
buang-buang waktu dan tidak jarang membuat seseorang menjadi ”gila”,
teralienasi dan menyusuri jalan-jalan sunyi kehidupan. Orang kebanyakan
an sich lebih tertarik mempelajari ekonomi, hukum, kedokteran maupun
pendidikan yang aplikasi dan orientasi kerjanya jelas, padahal filsafat
adalah embrio dari segala ilmu.
Namun demikian, ketika seseorang
dapat berpikir logis, sistematis dan rasional sejatinya ia telah
berfilsafat. Seorang petani, misalnya, ketika menjalani aktifitas
pertanian dengan penuh perencanaan dan perhitungan, maka ia telah
menerapkan filosofi bertani yang baik dan benar. Dalam hal ini filsafat
lebih diposisikan sebagai metode dan alat, sehingga bagi petani (karena
saya sendiri adalah petani), filsafat adalah ”cangkul” dan ”cara
mencangkul yang benar”. Manakala seorang petani tahu dan memiliki
cangkul yang proporsional (ontologi) dan bisa mencangkul secara
prosedural (epistemologi) dan lantas merawat tanamannya dengan baik
tentu hasil taninya akan maksimal (aksiologi). Maka, jadilah ia petani
yang philosophia alias filsuf pertanian.
Dengan demikian, memasuki
alam pikir falsafi sangat mudah dan sederhana, tidak harus cerdas
(apalagi jenius), modalnya cuma satu dan gratis, yakni sikap kritis.
Dan, ini bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan di manapun.
Bagaimana itu bisa dilakukan? Marilah kita jalan-jalan ke Yunani.
II. ”Mencangkul” di Yunani
Anda tentu pernah bertanya kapan, di mana, dari mana dan bagaimana proses lahirnya filsafat?
Yunani,
khususnya penduduk di sana, tentu saja tidak serta-merta menjadi para
filsuf dan langsung mengemukakan teori-teori filsafat. Mereka adalah
masyarakat polis yang normal, tradisional, boleh dikatakan primitif
alias jahiliyah, karena memang sangat memberhalakan mitos-mitos para
dewa, leluhur dan alam semesta. Namun dengan banyaknya penduduk yang
merantau (sekaligus belajar) ke luar Yunani serta tidak sedikit pula
pelancong dan pedagang yang datang melintas ke Asia kecil (sekarang
Turki) dan semenanjung Arabia, maka ramailah Yunani raya, tepatnya sejak
abad ke-5 SM.
Sebenarnya jauh sebelum Yunani diramaikan oleh
filsafat, manusia (terutama para Nabi, para guru dan penganjur
kasalehan) telah berfilsafat dan memandang alam raya ini dengan sikap
kritis dan cara pandang yang tidak sempit. Jika demikian, manusia yang
pertama kali bersilsafat (dan berpengetahuan) tentulah Nabi Adam a.s.
Bersama gerak sang waktu sampailah manusia pada peradaban Nuh a.s (+
4-5000 SM) bersama anaknya, Syam dan Ham mendirikan peradaban di Syiria
dan sekitarnya. Nuh a.s adalah generasi ke-9 dari Adam a.s. Selanjutnya
Ibrahim a.s dan Ismail a.s (+ 2-3000 SM) membangun peradaban di
Palestina dan Mekah, tak lama berselang peradaban Mesir kuno dan
Babilonia (Irak) juga berkembang bahkan sampai ke Yunani pengaruhnya. Di
bidang Astronomi dan Matematika orang-orang Yunani berhutang budi pada
Mesir dan Irak.
Kemudian pada 2500-1500 SM di Tibet dan semenanjung
Arabia, bangsa Dravida membangun peradaban Lembah Indus, dinasti Shang
pada 1523-1027 SM membangun peradaban China, kemudaian pada abad ke-13
SM nabi Musa a.s membangun peradaban bangsa Israel dengan menghancurkan
tirani raja Ramses II alias Fir’aun (1304-1274 SM)[3] dan pada abad
ke-10 SM Daud a.s dan puteranya, Sulaiman a.s mendirikan negara
Palestina dan membangun Masjid al-Aqsha, itulah kenapa masjid ini
disebut Haykal Sulaiman atau Salomon Tample (kuil Sulaiman), kemudian
pada abad ke-6 SM Siddharta Gautama (l. 563 SM) mengajarkan agama Budha
di India, selanjutnya Laozi mengajarkan filsafat Tao dan pada 551 SM
Guru Kung alias Kong Hu Cu lahir dan mengajarkan filsafat Konghucu. Pada
abad ke-6 SM inilah filsafat Yunani lahir. Selanjutnya abad ke-1 M
berdiri peradaban Funan di Kamboja[4] dan pada tahun 450 M di Indonesia
sudah berdiri kerajaan Kutai Kertanegara dan 50 tahun kemudian berdiri
kerajaan Tarumanegara.
Nah, filsafat Yunani lahir dari rahim mitologi
dewa-dewa dan alam semesta. Dari mythos itulah orang-orang macam
Pythagoras (+580-500 SM), Xenophanes (+570-480 SM), Herakleitos (540-475
SM), Protagoras (480-411 SM), Sokrates (499-399 SM), Plato (427-347 SM)
dan Aristoteles (384-322 SM) menjadikannya logos, rasional berdasarkan
akal budi dan pengetahuan. Secara garis besar yang dapat ”dicangkul”
dari Yunani adalah tradisi kritis, yakni mendobrak kesalahan publik dan
membongkar kebohongan mitos-mitos para dewa dan alam semesta.
III. Berkenalan dengan Ustadz Sokrates, Plato dan Aristoteles
Sokrates, disebut ustadz karena ia adalah guru besar yang banyak
menanamkan pengaruh signifikan bagi filsuf sesudahnya. Sokrates,
sekalipun lahir dari keluarga terpandang—ibunya seorang dukun beranak
dan bapaknya (ada yang mengatakan pematung)—tapi ia lebih senang hidup
menggelandang menyusuri pasar dan keramaian untuk berdialegestai
(berdialog) dengan semua kalangan, termasuk kaum Sofis. Sokrates selalu
bersikap kritis dan mempertanyakan banyak hal dalam dialog-dialognya, di
antaranya adalah: apa kebaikan itu? apa hidup yang baik itu? bagaimana
seorang bisa mendapatkan eudaimonia (kebahagiaan)? Manusia harus punya
arete (kebajikan, moral). Mempunyai arete, bagi Sokrates berarti
memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia[5]. Inilah inti ajaran
filsafat Sokrates, yakni filsafat manusia. Doktrin Sokrates yang paling
terkenal yakni: keutamaan adalah pengetahuan.
Ustadz Sokrates tidak
berpolitik, karena saat itu polis sangat erat dengan keyakinan tentang
dewa-dewa dan mitologi Yunani kuno. Sokrates menganggap mitos-mitos yang
berkembang di Yunani tidaklah benar, baginya mitologi hanyalah ciptaan
penyair-penyair yang penuh kebohongan dan mengharap imbalan dari
penguasa. Dari sanalah corak filsafat Sokrates sangat kental. Akhirnya,
karena tidak percaya pada dewa-dewa yang diakui oleh pemerintah polis
Athena itulah pada usia 70 tahun Sokrates mengakhiri hidupnya dengan
minum racun dalam penjara setelah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan
Athena.
Setelah meninggalnya sang ustadz, Plato meneruskan ajaran dan
tradisinya dalam berdialog dan mengarang dialog, bahkan sebagian besar
karyanya, kecuali Apologia, adalah dialog-dialog. Plato sangat
dipengaruhi Sokrates dalam berfilsafat, bahkan seluruh aliran darah
Plato adalah sokratik, ia cenderung mencari aspek-aspek dialogis dari
segala realitas dan gejala, sehingga bagi Plato, filsafat adalah dialog.
Tak lama setelah kembali dari Italia, ia mendirikan sekolah yang diberi
nama ”Akademia”, nama ini ia dedikasikan bagi seorang pahlawan Yunani
bernama Akademos. Yang membedakan Sokrates dengan Plato adalah Sokrates
tidak mengajar, hanya berdialog sedangkan Plato intensif mengajar, hanya
saja Plato tidak begitu frontal menentang mitos-mitos, malah dalam
karya-karya Plato banyak terdapat mitologi.
Inti filsafat Plato
adalah ide, baginya ide-ide bukanlah sesuatu yang subyektif berupa
gagasan belaka, akan tetapi obyektif, terlepas dari subyek berpikir.
Bagi Plato ide tidak diciptakan dari pemikiran, justru sebaliknya,
pemikiranlah yang tergantung pada ide-ide. Pemikiran tidak lain dari
pada menaruh perhatian pada ide-ide.
Dalam karyanya berjudul
Politeia, Plato mengatakan bahwa terdapat hierarki dalam ide-ide, dan
seluruh hierarki itu akhirnya memuncak pada ide ”yang baik”. Dalam karya
yang lain, Shopistes, Plato mengatakan bahwa pada puncak ”dunia ideal”
terdapat lima ide (ada, identik, lain, diam dan gerak), kelimanya
menghubungakan semua jaringan ide.
Filsafat Plato ini kemudian banyak
dikritisi oleh muridnya, Aristoteles. Ia lahir—15 tahun setelah
kematian Sokrates—di Stageira, Yunani utara pada 384 SM[6] dan tinggal
di istana raja Makedodia, Amyntas II sampai usia 17 tahun dan lantas
berguru pada Plato. Meski ia belajar di Akademi Plato selama 20 tahun,
tapi dalam hampir semua karyanya ia justru bertentangan dengan gurunya.
Namun Aristoteles tidak menghilangkan tradisi dialog yang sudah dirintis
oleh ustadz Sokrates dan Plato. Dengan banyak mengkritisi para filsuf
sebelumnya Aristoteles menjadi filsuf terbesar yang karyanya mencakup
banyak aspek keilmuan, seperti logika, metafisika, ilmu bumi, politik
dan retorika, serta ekonomi dll.
Filsafat Aristoteles dibagi dalam
tiga periode. Pertama ketika ia masih di Akademia, ia sangat mengagumi
Plato, kedua sewaktu berada di Assos dan istana Pella, ia berbaik
menyerang gurunya dan ketiga, sewaktu mengajar di sekolah Lykeion di
Athena, Aristoteles lebih tertarik pada filsafat spekulatif dan
penelitian empiris. Dalam karyanya yang berjudul Metaphysica, terutama
pada bab XIII dan XIV, Aristoteles dengan gencar mengkritik dan
menyangkal ajaran Plato tentang ide. Bagi Aristoteles, Plato terlalu
sibuk dengan ide (bentuk) dari segala realitas. Ajaran Plato bahwa ide
(bentuk) realitas seluruhnya bersifat umum tidak benar, sebab ide
bersifat individual dan tidak universal. Contoh, kalau ”bentuk” manusia A
dan B memang berdiri sendiri, maka bentuk ini merupakan individu,
artinya baik A maupun B sama-sama individu. Jika demikian, nantinya akan
ada individu ketiga (tritos antropos) yang bisa saja menyamai individu A
dan B maupun yang lain. Begitulah seterusnya, D seperti C, E seperti D,
Y seperti X, sampai tak terbatas.
Aristoteles perpendirian bahwa
setiap ide tertuju pada materi, tidak mungkin bisa dilepaskan. Sebab ide
adalah esensi suatu benda atau realitas, apapun itu. Sehingga esensi
tidak bisa berdiri sendiri, dan yang ada dalam kenyataan adalah
benda-benda konkret saja. Proses ini disebut abstraksi. Contoh, ketika
petani mengatakan, ”saya mau mencangkul”, itu bukan berarti cangkul ada
dalam pikiran petani, tidak. Yang ada dalam pikirannya hanyalah gambaran
tentang cangkul dan rencana mencangkul. Nah, karena adanya proses
abstraksi inilah ilmu pengetahuan dimungkinkan, tanpa mengandaikan
ide-ide gaya Plato. Selanjutnya Aristoteles membagi ilmu pengetahuan
dalam tiga golongan, yakni pengetahuan praktis, produktif dan teoritis.
Namun ironisnya, logika, bagi Aristoteles tidak termasuk dalam ilmu
pengetahuan, di bidang logika inilah Aristoteles menjangkarkan konsep
besarnya mengenai deduksi, induksi dan silogisme. Demikian, Allaahu
yuwaffiqunaa ilaa sabiilil-anbiyaa’ wal mursaliin.
*
[1]
Disampaikan dalam Diskusi Sejarah Filsafat Yunani pengurus Komisariat
PMII Univ. Kanjuruhan Malang, 11 Dzul Qa’dah 1431 H/19 Oktober 2010
[2]
Ach Dhofir Zuhry, Petani dan Peternak, sambil bertani menjadi
direktur Avennasar Institute, bukunya yang sudah terbit Tersesat di
Jalan yang Benar (Kalam Mulia, 2007), Terjemah Shalawat Haji: Tahni’ah
Li Qudumi Hujjaj Bayt al-Haram, Istighotsah dan Tafsir az-Zuhry vol. I
(Nurudh-Dholam Institute, 2006) dan A’malul Yaumiyah (YND Jakarta,
2010). Kumpulan cerpen Para Nabi Dalam Botol Anggur insya Allah akan
terbit di Intrans Malang akhir tahun ini, kumpulan puisi Orgasme dan
Matahari Tumbuh Dari Senyummu, sedang dipersiapkan untuk terbit.
[3] Lih. Ismail dan Lamya’ R. Al-Faruqy, Cultural Atlas of Islam. New York: MacMilian, 1986. hlm. 52-55.
[4] Nigel Kelly & Goh Phay Yen, Discovering History (pen. R. Effendi), Jakarta: Moyo Segoro Agung 1999, hlm. 31-34
[5] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta: Kanisius 1999. hlm. 104-111
[6] Ibid. 154
Tidak ada komentar:
Posting Komentar