RESENSI BUKU
OLEH:
FATHUR MUZAKKIR
JUDUL BUKU : FILSAFAT ILMU
PENULIS
: TIM DOSEN FILSAFAT ILMU
FAKULTAS FILSAFAT UGM
PENERBIT : LIBERTY YOGYAKARTA
TAHUN CETAKAN : JANUARI 2010 CETAKAN KE-5, EDISI KE-2
“Jika
engkau haus akan kedamaian jiwa,
dan
kebahagiaan, maka percayalah.
Jika
engkau ingin murid kebenaran,
maka
carilah”
SEKILAS
TENTANG PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN FILSAFAT
Menurut
Diagones Leartius (200 M) yang kemudian di perkuat oleh Eduard Zeller, bahwa
lahirnya filsafat tidak di rintis oleh dunia timur. Karena dia beranggapan
bahwa di dunia timur bukanlah filsafat, melainkan merupakan ajaran-ajaran,
praksis-terapan, seperti ilmu perbintangan, ilmu pengobatan, ilmu hitung, dan
lain sebagainya. Penegasan tersebut dapat di pahami karena apa yang di sebut
ilmu pengetahuan di letakkan pada tolak ukur dalam dimensi penomenal dan
struktutalnya.
Dalam dimensi penomenalnya, ilmu pengetahuan menampakkan dirinya pada
tiga hal, yakni:
•
Masyarakat, yakni
masyarakat yang dalam hidup kesehariannya yang sangat konsen pada kaidah-kaidah
universalisme, komunalisme,
disinterestedness, dan skeptisisme
yang terarah dan teratur.
•
Proses yakni
krida aktivitas masyarkat elit yang melalui refleksi,
konteplasi, imajinasi, observasi, eksperimentasi, komparasi, dan sebagainya
untuk mencari kebenaran ilmiah.
•
Produk yaitu
hasil dari aktivitas tadi berupa dalil-dalil, teori-teori, dan paradigma-paradigma
yang bersifat fisik maupun non-fisik.
Dalam dimensi struktural, ilmu pengetahuan
tersusun atas komponen berikut, yaitu:
•
Objek
(gegenstand),
•
Ada alasan
(motif),
•
Temuan-temuan.
Kelahiran
filsafat ini bercorak pada Mitologi yang membahas tentang Kosmologi, dan
tentang Theologi (peranan para Dewa).
Tetapi, filsafat ini berubah setelah dilakukan Demitologisasi
(penghilangan mitos) yang di pelopori oleh para filsuf pra-Socrates. Teapi, kemampuan realisasi filsafat mencapai puncak
perkembangan pada masa tiga filsuf, yaitu:
•
Socrates
•
Plato
•
Aristoteles.
Setelah itu, filsafat yang semula mitologi
berkembang menjadi ilmu pengetahuan.
Pernyataan
Aristoteles tentang perkembangan ilmu pengetahuan meliputi berbagai bidang,
yaitu:
•
Poiteis (terapan)
•
Praktis
(normatik; etika dan politik)
•
Teoritik.
Pasca Aristoteles, filsafat Yunani kuno menjadi
ajaran praktis, bahkan mistis.
Sebagaimana yang di ajarkan oleh Stoa, Eficuri, dan Plotinus, bahkan filsafat
harus mengabdi pada agama.
Filsafat
sampai ke Cordova (Spanyol) yang di bawa oleh filsuf dari Arab seperti
Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, yang menyebarkan
filsafat pemikiran Aristoteles, dan kemudian di warisi oleh Dunia Barat melalui
kaum Patristik dan Skolastik.
Filsafat
memasuki tahap yang baru atau modern dengan langkah Revolusionernya yang di
pelopori oleh kaum Ranaissance (abad
ke-15), dan di matangkan oleh gerakan Aufklaerung (abad ke-18). Dari
kepeloporan Revolusioner yang telah di lakukan oleh Copernicus, Galileo
Galilei, kepler, Descartes, Immanuel Kant. Ini memberikan implikasi yang amat
luas dan mendalam, yang menyebabkan agama dan filsafat berpisah, dan berkembang
menurut pemikiran masing-masing. Dan selanjutnya filsafat di tinggalkan oleh
cabang-cabang ilmu dengan Mitologinya masing-masing dan mengembangkan
spesisismenya sendiri.
Lepasnya
ilmu cabang filsafat di awali oleh ilmu-ilmu alam atau Fisika melalui tokoh
berikut:
•
Copernicus
(1473-1543) menyelidiki putaran benda angkasa, yang kemudian di kembangkan oleh
Galileo Galilei (1564-1642) dan Johanes Kepler (1571-1630).
•
Versalinus
(1514-1516) melahirkan pembaharuan persepsi dalam bidang Anatomi dan Biologi.
•
Issac Newton
(1642-1727) menyumbangkan bentuk Definitif bagi Mekanika klasik.
Setelah
kehadiran Auguste Comte (1797-1857), perkembangan ilmu pengetahuan melahirkan
ilmu sosial, yang mengajarkan manusia untuk berpikir, bahwa yang benar dan
nyata haruslah konkrit, eksak, akurat,
dan memberi kemanpaatan. Setelah itu lahirlah sebuah metode observasi, eksperminasi, dan komparasi yang di pelopori oleh Francis
Bacon (1561-1626).
•
Pengenalan Filsafat
Filsafat
adalah suatu usaha untuk memahami atau mengerti dunia dalam hal makna dan
nilai-nilainya. Filsafat besusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang
asal muasal dan sifat dasar alam semesta, filsafat ini termasuk ilmu
pengetahuan yang paling luas cakupannya dalam segi Etimologi yang membahas suatu istilah atau segi dari asal usul
kata.
•
Segi Etimologi
Dari
segi Etimologi, filsafat (Indonesia),
Falsafah (Arab), Philiosophy (Inggris), Philosopia
(Latin), Philosopie (Jerman, Belanda,
Perancis). Semua ini pada istilah Philosopia
(Latin), dalam istilah Yunani Philien
(mencintai), Philos (teman), sopos (bijaksana), dan Shopia (kebijaksanaan).
Arti
secara Etimologi dari filsafat
•
Apabila filsafat
mengacu pada asal kata Philein dan Sophos, maka artinya mencintai hal-hal yang bijaksana.
•
Apabila filsafat
mengacu pada asal kata Philos dan Sophia, maka artinya adalah teman yang bijaksana.
Menurut
sejarah, Phytagoras (572-497 SM) adalah orang pertama yang memakai kata Philosophia, dan menyebut dirinya
sebagai Philosophos, yakni pecinta kebijaksanaan (lover of wisdom). Dengan cara
demikian filsafat itu memiliki arti yang sangat umum,karena siphia tidak hanya di artikan sebagai kebijaksanaan, tetapi di artikan
juga sebagai kerajinan, kebenaran pertama, pengetahuan yang luas, kebijakan
intelektual, pertimbangan yang sehat, kecerdikan dalam memutuskan hal-hal
praktis, yang intinya filsafat itu mencari keutamaan mental (the pursuit of mental exselence).
•
Segi Metode
Secara
metode, filsafat di artikan sebagai cara berpikir secara reflektif (mendalam), dan metode berpikir seperti ini bersifat Inclusive (mencakup secara luas) dan Sinoptic (secara garis besar). Selain
secara metode, filsafat juga sebagai analisa logis yang bertujuan untuk menyingkirkan kekaburan-kekaburan dengan
cara menjelaskan arti istilah atau ungkapan yang di pakai dalam ilmu
pengetahuan, misalnya dalam ilmu kimia, konsep dasarnya adalah subtansi (zat),
Geometri yang bertalian dalam ruang dasar, Mekanika dengan konsep dasar gerak
dan seterusnya.
•
Hubungan Ilmu Dengan Filsafat
Pada
mulanya, ilmu yang pertama kali muncul adalah filsafat, dan ilmu-ilmu khusus
adalah bagian-bagian dalam filsafat, sehingga filsafat juga di sebut sebagai
“induk” atau “ibu” dari segala ilmu pengetahuan. Sehingga filsafat melahirkan
cabang-cabang ilmu pengetahuan yang terkonsep oleh masing-masing pemikirnya,
dan bertujuan untuk menjelaskan masing-masing dari apa yang di pikirkan, tetapi
semua konsep cabang ilmu-ilmu tersebut tidak lepas dari filsafat, “anak tidak lepas dari induknya”.
•
Persoalan Filsafat
Lahirnya
filsafat berasal dari kekaguman dan keheranan manusia pada kejadian alam,
seperti gempa bumi, banjir, hujan dan sebagainya. Inilah yang menadi persoalaan
yang menyebabkan timbulnya filsafat yang di peroleh jawabannya oleh para
filsuf, jawaban persoalan itu di peroleh dengan melakukan refleksi (berpikir tentang pemikiran sendiri).
Ciri-ciri persoalan filsafat:
•
Bersifat secara
umum, berarti persoalan yang berkaitan dengan ide-ide besar.
•
Tidak menyangkut
fakta, berarti persoalan filsafat lebih spekulatif.
•
Bersangkutan
dengan nilai-nilai (values), berarti
persoalan filsafat yang berasal dari penilaian baik moral, estesiis, agama dan sosial. Nilai disini berarti suatu kualitas
abstrak yang ada pada suatu hal.
•
Bersifat kritis, artinya filsafat merupakan
analisis secara kritis terhadap segala sesuatu.
•
Bersifat sinoptik, artinya persoalan filsafat
mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan.
•
Bersifat implikatif, artinya persoalan yang
bersifat saling berhubungan.
•
Cabang Filsafat
Cabang filsafat
di lihat dari pokok permasalahan yang di cari menakup tiga hal, yakn:
•
Apa yang di sebut
benar dan apa yang di sebut salah (logika)
•
Mana yang di
anggap baik dan mana yang di anggap buruk (etika)
•
Apa yang termasuk
indah dan apa yang termasuk jelek (estetika)
Cabang
filsafat yang memiliki kajian yang lebih spesifik, antara lain:
•
Epistemlogi
(pengetehuan),
•
Etika (filsafat
moral),
•
Estetika
(filsafat seni),
•
Metafisika,
•
Politik (filsafat
pemerintahan),
•
Teologi (filsafat
agama),
•
Filsafat ilmu,
•
Filsafat
pendidikan,
•
Filsafat hukum,
•
Filsafat sejarah,
•
Filsafat
matematika.
Selain persoalan yang di peroleh dengan melakukan refleksi, filsafat jiga memiliki persoalan yang lebih mendasar
tentang nilai-nilai, diantaranya:
•
Persoalan
keberadaan (being) atau eksistensi (existance), persoalan ini bercabang
tentang cabang filsafat Metafisika.
•
Persoalan
pengetahuan (knowliedge) atau
kebenaran (truth), persoalan ini
berkaitan dengan cabang filsafat epistimologi, sedangkan kalau di bentuknya,
persoalan ini berkaitan dengan pesoalan logika.
•
Persoalan
nilai-nilai (values), persoalan ini
berkaitan dengan tingkah laku (etika)
dan berkaitan dengan keindahan (estetika).
•
Metafisika
Berasal dari bahasa Yunani Meta ta Physika yang artinya sesuatu
yang berada di belakang benda-benda fisik (yang tidak bisa di panca indra).
Persoalan
metafisis di bedakan menjadi tiga, yaitu:
•
Persoalan
Ontologis
Ada
tiga pertanyaan yang mendasar pada persoalan Ontologis:
•
Apa yang di
maksud dengan ada, keberadaan (eksistensi)
•
Bagaimana
persoalan itu ada, keberadaan (eksistensi)
•
Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan.
•
Persoalan
Kosmologi (alam)
Persoalan
ini berkaitan pada asal muasal perkembangan dan struktur atau susunan alam
•
Persoalan Antropologi
(manusia)
Persoalan
ini berkaitan dengan hubungan antara badan dan jiwa.
•
Epistemologi
Epistimologi juga di sebut sebagai teori
pengetahuan (theory of knowledge).
Secara etimiologi, epistemologi berasal dari kata Yunani episteme yang artinya
pengetahuan, logos yang artinya teori. Jadi secara
terminologi, epistimologi adalah cabang filsafat yang mempelajari asal muasal,
atau sumber, struktur, metode dan syahnya (vadilitas)
pengetahuan. Persoalan epistemologi ini membahas tentang baagaimana pengetahuan
itu di peroleh, bagaimana vadilitas pengetahuan itu dapat di nilai, dan
bagaimana perbedaan antara pengetahuan a
priori (pengetahuan
pra-pengalaman) dengan pengetahuan a
posteriori (pengetahuan purna
pengalaman).
•
Logika
Cabang filsafat yang berkaitan dengan
kegiatan berpikir, secara etimologi, logika berasal dari kata Yunani logos yang artinya kata, nalar, teori, atau uraian. Secara termunologi
logika merupakan kecakapan atau alat untuk berfikir secara luas. Logika ini
memiliki dua objek, yakni objek material logika adalah pemikiran, dan objek
pormal adalah kelurusan berpikir. Pada cabang filsafat ini, persoalan yang di
hadapi adalah terletak pada pengertian (concept),
putusan (proposition), dan
penyimpulan (inference).
•
Etika
Etika juga di sebut filsafat moral (mo-ral philosophi). Secara etimologi,
etika berasal dari kata Yunani ethos yang artinya watak, sedangkan dari
kata latin adalah mos, bentuk
tungga, sedangkan bentuk jamaknya adalah mores yang artinya kebiasaan. Persoalan
dalam etika adalah bagaimana maksud dari baik dan buruk itu, dan bagaimana
peranan hati nurani (conscience).
•
Estetika
Cabang filsafat ini juga di sebut filsafat
keindahan (philosophy of beauty),
secara etimologi, estetika berasal dari kata Yunani aisthetika yang artinya
hal-hal yang dapat di serap dengan indra, atau aisthesis yang artinya cerapan indra. Persoalan pada
estetika adalah bagaimana dan apa keindahan itu, apakah sifat keindahan sebagai
subjektif atau sebagai objektif?, dan bagaimana hubungan aantara keindahan dan
kebenaran.
•
Aliran-aliran Filsafat
•
Aliran dalam
Persoalan Kebenaran
•
Di Pandang dari
Segi Jumlah
•
Monisme (satu)
Aliran
ini menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan Fundamental, kenyataan ini dapat
berupa jiwa, materi, tuhan atau subtansi lainnya. Tokoh-tokohnya antara lain
adalah Thales (625-545 SM) menyatakan subtansi adalah air, Anaximandros
(610-547 SM) subtansi yang terdalam adalah apeiron (sesuatu yang tidak terbatas),
Anaximenes (585-528 SM) menyatakan subtansi adalah udara. Selain filsuf Yunani
kuno, filsuf modern yang menganut aliran Monisme
adalah Baruch Spinoza yang menyatakan satu subtansi yaitu tuhan, dalam hal
ini tuhan di identikkam dengan alam (naturans
naturata).
•
Dualisme (dua)
Aliran
ini menyatakan dua subtansi yang berbiri sendiri. Tokoh-tokohnya adalah Plato
(428-348 SM) yang membedakan dua dunia yaitu dunia indra (dunia bayang-bayang)
dan dunia intelek (dunia ide),
Descartes (1596-1650) yang membedakan subtansi pikiran dan subtansi keluasan,
Leibniz (1646-1716) yang membedakan dunia yang sesungguhnya dan dunia yang
mungkin, Immanuel Khan (1724-1804) yang membedakan antara dunia gejala (penomena) dan dunia hakiki (noumena).
•
Pluralisme
(banyak)
Aliran
ini mengakui banyak subtansi. Tokoh-tokohnya yang termasuk pluralisme di
antaranya Empedokles (490-430 SM) menyatakan hakekat kenyataan terdiri dari
empat unsur yaitu udara, air, api, dan tanah. Anaxagoras (500-428 SM)
menyatakan hakekat itu tidak terbatas banyaknya, dan semua itu tenaga yang di
namakan nous (suatu yang paling
halus) yang memiliki sifat pandai bergerak dan mengatur. Leibniz (1646-1716)
menyatakan hakekat terdiri dari monade-monade yang tidak terhingga.
•
Di Pandang dari
Segi Sifat (kualitas)
•
Spiritualisme
Aliran
ini juga di sebut idealisme (serba
cita). Tokoh-tokohnya diantaranya adalah Plato (430-348 SM) dengan ajaran idea
(cita) dan jiwa, Leibniz (1646-1716) dengan teori monade yang sifatnya
bergerak, menanggap, dan berpikir.
•
Materialisme
Aliran
ini juga disebut materi. Tokoh-tokohyna antara lain Demokritos (460-370 SM)
yang berkeyakinan alam semesta tersusun atas atom-atom kecil yang memiliki
bentuk dan badan, dan memiliki sifat yang sama. Thomas Hobbes (1588-1679)
berpendapat bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan gerak dari
materi.
•
Di pandang dari
Segi Proses
•
Mekanisme (serba
mesin)
•
Teleologi (serba
tujuan)
•
Vitalisme
Memandang
bahwa sesungguhnya kehidupan tidak dapat sepenuhnya di jelaskan secara fisika
kimiawi. Filsafatnya Hans Adolf Eduard Driesch (1867-1940) menjelaskan setiap
organisme memiliki entelechy, Henry
Bargson (1859-1914) menyebutkan elan vital.
•
Organisisme
Aliran
ini menyatakan bahwa hidup adalah suatu struktur yang dinamik yang memiliki
bagian-bagian yang heterogen, dan yang utama adalah adanya sistem yang teratur.
•
Aliran dalam
Persoalan Pengetahuan
•
Rasionalisme
Berpandangan
pada semua ilmu pengetahuan bersumber pada akal,dan kemudiabn di oleh akal
sehingga menghasilkan pengetahuan.
•
Empirisme
Berpendirian
bahwa pengetahuan adalah berupa pengalaman.
•
Realisme
•
Kritisisme
•
Aliran dalam
Persoalan Nilai-nilai (etika)
•
Idealisme etis
•
Deontologisme
Etis
Berpendirian
bahwa suatu tindakan di anggap baik tanpa di sangkutkan denngan dengan nilai
kebaikan suatu hal.
•
Etika Teleologis
Menyatakan
bahwa kebaikan atau kebenaran suatu tindakan sepenuhnya bergantung pada suatu
tujuan atau suatu hasil.
•
Hedonisme
Menganjurkan
manusia untuk mencaapai kebahagiaan yang di dasarkan pada kenikmatan,
kesenangan (pleasure)
•
Utilitarisme
Pandangan
yang menyatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang menmbulkan
kenikmatan atau kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi manusia yang
sebanyak-banyaknya.
•
Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
Filsafat ilmu dalam bidang filsafat mencakup dua bidang, yaitu:
•
Membahas tentang
sifat pengetahuan ilmiah
•
Menelaah
cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah.
Filsafat ilmu di kelompokkan menjadi dua, yaitu:
•
Filsafat Ilmu
Umum
Mencakup
tetang persoalan kesatuan, keseragaman, serta hubungan di antara segenap ilmu.
•
Filsafat Ilmu
Khusus
Membicarakan
kategori-kategori serta metode-metode yang di gunakan dalam ilmu tertntu.
Berdasarkan model di kelompokkan menjadi
•
Filsafat Ilmu
Terapan
Filsafat
ilmu yang mengkaji pokok pikiran kefilsafatan, yang melatarbelakangi
pengetahuan normatik dunia ilmu.
•
Filsafat Ilmu
Murni
Bentuk
kajian filsafat ilmu yang dilakukan dengan menelaah secara kritis dan
eksploratif terhadap materi kefilsafatan, membuka cakrawala terhadap
kemungkinan berkembangnya pengetahuan normatik yang baru.
•
Hubungan Filsafat Ilmu dengan Epistemologi
Filsafat
ilmu secara sistimatis merupakan cabang dari rumpun kajian epistemologi,
epistemologi sendiri mempunyai dua cabang yaitu filsafat pengetahuan (theories of knowledge) dan
filsafat ilmu (theory of science).
Objek ilmu dan pengerahuan jika di lihat dari segi material memiliki perbedaan,
objek material filsafat pengetahuan adalah gejala pengetahuan, sedangkan objek
pengetahuan filsafat ilu adalah mempelajari gejala-gejala ilmu menurut sebab
terpokok. Dalam epistemologi yang di bahas adalah objek pengetahuan, filsafat
ilmu juga disebut sumber atau alat untuk memperoleh pengetahuan, kesadaran dan
metode, vadilitas pengetahuan, dan keberadaan pengetahuan.
Filsafat
ilmu dan epistemologi ini sama-sama menunjukkan ilmu sebagai pengetahuan dan
kemudian di telaah bagaimana gejala pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari,
filsafat ilmu juga disebut sebagai sarana dan objek untuk memproses ilmu, harus
selaras atau konsisten dengan karakter objek material ilmu. Ilmu di katakan
benar secara epistemologi adalah bukanlah suatu yang di datangkan dari luar,
melainkan hasil atau konsekuensi dari metode penyelidikan dan hasil
penyelidikan.
•
Asumsi Beberapa
Jenis Objek Ilmu
1.
Ilmu Alam dan Empiris
Ilmu
empiris berpandangan pada objek alam, mempelajari gejala dan peristiwa yang
menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi manusia. Ilmu empiris mempunyai
beberapa asumsi mengenai objek antara lain:
a.
Menganggap objek-objek mempunyai keserupaan satu sama lain.
b. Menganggap bahwa suatu benda tidak pengalami
perubahan dalam jangka waktu tertentu.
c.
Menganggap tiap gejala bukan suatu kejadian yang bersifat kebetulan.
2.
Ilmu Abstrak
3.
Ilmu-ilmu Sosial dan Kemanusiaan
Ilmu
sosial ini memcakup tentang tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari
4.
Ilmu Sejarah
Ciri
ilmu sejarah ini di bandingkan ilmu empiris terletak pada sifat objek
materialnya yaitu data-data peninggalan masa lalu, baik berupa kesaksian,
alat-alat, makam, rumah, tulisan, karya seni, dan sebagainya.
•
Hubungan Filsafat dengan Ilmu
Menurut
Herbert Spencer (filsuf Inggris, 1820-1903 M) mengatakan bahwa ilmu adalah
pengetahuan yang menyatakan hal-hal yang ada (being) secara persial, sedangkan filsafat adalah pengetahuan yang
menyatukan secara sempurna (universal).
Sebelum ilmu dan filsafat berubah, bahwa sesungguhnyailmu pengetahuan muncul di
antara dahan-dahan filsafat. Keterpisahan ilmu dengan filsafat di mulai sejak
masa Yunani, ketika Matematika menjadi mandiri di tangan Eukledos (330-270 SM)
dan Aschimedes (287-212 SM), Fisika di pisahkan dari filsafat oleh Galileo
(1564-1642), Kimia oleh Lavoiser (1743-1794), dan Biologi yang di pisah oleh
Claude Bernard (1813-1873), serta pada abat ke-20 yang menjadi saksi
terpisahnya ilmu jiwa (psikologi)
dari kajian filsafat. Tapi keterpisahan ini tidak mesti membuat ilmu dan
filsafat saling bertolak belakang, bahwa pada era Konterporer ilmu dan filsafat saling melengkapi satu sama lain,
karena filsuf pada era Kontenporer ini
adalah para ilmuan. Oleh sebab itu, ilmu dan filsafat tidak bisa di pisahkan
mesti ilmu dan filsafat berpisah jalan menurut pemikiran masing-masing.
•
Kelebihan
Buku ini sangat
menarik, karena penggunaan kata-kata di dalam buku ini mudah untuk di pahami,
meski banyak mengandung bahasa latin, tapi penjelasan yang di gunakan sangat
praktis. Kelebihan buku ini terlihat pada pembahasan materi yang sangat detail,
kosa kata yang praktis, dan dari segi penulisan sangat teratur dan sistimatis.
•
Kekurangan
Untuk
kekurangan buku ini terletak pada pembagian cabang-cabang filsafat dan hubungan
filsafat dengan ilmu yang tidak terlalu di jelaskan secara detail, sehingga
membuat saya untuk mengambilkan sedikit penjelasan ringkas dari buku karya Dr.
Fu’ad Farid isma’il dan Dr. Abdul Hamid Mutawalli yang berjudul “Cara Mudah
Belajar Filsafat (Barat dan Islam)”, untuk melengkapi resensi penulisan saya.
Dan selebihnya saya belum menemukan kekurangan buku tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar