Selasa, 28 Oktober 2014



RESENSI BUKU
OLEH:
FATHUR MUZAKKIR
JUDUL BUKU              :   FILSAFAT ILMU
PENULIS                      :   TIM DOSEN FILSAFAT ILMU FAKULTAS FILSAFAT UGM
PENERBIT                  :   LIBERTY YOGYAKARTA
TAHUN CETAKAN   :   JANUARI 2010 CETAKAN KE-5, EDISI KE-2
“Jika engkau haus akan kedamaian jiwa,
dan kebahagiaan, maka percayalah.
Jika engkau ingin murid kebenaran,
maka carilah”
SEKILAS TENTANG PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN FILSAFAT
            Menurut Diagones Leartius (200 M) yang kemudian di perkuat oleh Eduard Zeller, bahwa lahirnya filsafat tidak di rintis oleh dunia timur. Karena dia beranggapan bahwa di dunia timur bukanlah filsafat, melainkan merupakan ajaran-ajaran, praksis-terapan, seperti ilmu perbintangan, ilmu pengobatan, ilmu hitung, dan lain sebagainya. Penegasan tersebut dapat di pahami karena apa yang di sebut ilmu pengetahuan di letakkan pada tolak ukur dalam dimensi penomenal dan struktutalnya.
       Dalam dimensi penomenalnya, ilmu pengetahuan menampakkan dirinya pada tiga hal, yakni:
         Masyarakat, yakni masyarakat yang dalam hidup kesehariannya yang sangat konsen pada kaidah-kaidah universalisme, komunalisme, disinterestedness, dan skeptisisme yang terarah dan teratur.
         Proses yakni krida aktivitas masyarkat elit yang melalui refleksi, konteplasi, imajinasi, observasi, eksperimentasi, komparasi, dan sebagainya untuk mencari kebenaran ilmiah.
         Produk yaitu hasil dari aktivitas tadi berupa dalil-dalil, teori-teori, dan paradigma-paradigma yang bersifat fisik maupun non-fisik.
Dalam dimensi struktural, ilmu pengetahuan tersusun atas komponen berikut, yaitu:
         Objek (gegenstand),
         Ada alasan (motif),
         Temuan-temuan.
            Kelahiran filsafat ini bercorak pada Mitologi yang membahas tentang Kosmologi, dan tentang Theologi (peranan para Dewa).  Tetapi, filsafat ini berubah setelah dilakukan Demitologisasi (penghilangan mitos) yang di pelopori oleh para filsuf pra-Socrates. Teapi,   kemampuan realisasi filsafat mencapai puncak perkembangan pada masa tiga filsuf, yaitu:
         Socrates
         Plato
         Aristoteles.
Setelah itu, filsafat yang semula mitologi berkembang menjadi ilmu pengetahuan.
            Pernyataan Aristoteles tentang perkembangan ilmu pengetahuan meliputi berbagai bidang, yaitu:
         Poiteis (terapan)
         Praktis (normatik; etika dan politik)
         Teoritik.
Pasca Aristoteles, filsafat Yunani kuno menjadi ajaran praktis, bahkan mistis. Sebagaimana yang di ajarkan oleh Stoa, Eficuri, dan Plotinus, bahkan filsafat harus mengabdi pada agama.
            Filsafat sampai ke Cordova (Spanyol) yang di bawa oleh filsuf dari Arab seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Ghazali, yang menyebarkan filsafat pemikiran Aristoteles, dan kemudian di warisi oleh Dunia Barat melalui kaum Patristik dan Skolastik.
            Filsafat memasuki tahap yang baru atau modern dengan langkah Revolusionernya yang di pelopori oleh kaum Ranaissance (abad ke-15), dan di matangkan oleh gerakan Aufklaerung (abad ke-18). Dari kepeloporan Revolusioner yang telah di lakukan oleh Copernicus, Galileo Galilei, kepler, Descartes, Immanuel Kant. Ini memberikan implikasi yang amat luas dan mendalam, yang menyebabkan agama dan filsafat berpisah, dan berkembang menurut pemikiran masing-masing. Dan selanjutnya filsafat di tinggalkan oleh cabang-cabang ilmu dengan Mitologinya masing-masing dan mengembangkan spesisismenya sendiri.
            Lepasnya ilmu cabang filsafat di awali oleh ilmu-ilmu alam atau Fisika melalui tokoh berikut:
         Copernicus (1473-1543) menyelidiki putaran benda angkasa, yang kemudian di kembangkan oleh Galileo Galilei (1564-1642) dan Johanes Kepler (1571-1630).
         Versalinus (1514-1516) melahirkan pembaharuan persepsi dalam bidang Anatomi dan Biologi.
         Issac Newton (1642-1727) menyumbangkan bentuk Definitif bagi Mekanika klasik.
            Setelah kehadiran Auguste Comte (1797-1857), perkembangan ilmu pengetahuan melahirkan ilmu sosial, yang mengajarkan manusia untuk berpikir, bahwa yang benar dan nyata haruslah konkrit, eksak, akurat, dan memberi kemanpaatan. Setelah itu lahirlah sebuah metode observasi, eksperminasi, dan komparasi yang di pelopori oleh Francis Bacon (1561-1626).
         Pengenalan Filsafat
            Filsafat adalah suatu usaha untuk memahami atau mengerti dunia dalam hal makna dan nilai-nilainya. Filsafat besusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang asal muasal dan sifat dasar alam semesta, filsafat ini termasuk ilmu pengetahuan yang paling luas cakupannya dalam segi Etimologi yang membahas suatu istilah atau segi dari asal usul kata.
         Segi Etimologi
            Dari segi Etimologi, filsafat (Indonesia), Falsafah (Arab), Philiosophy (Inggris), Philosopia (Latin), Philosopie (Jerman, Belanda, Perancis). Semua ini pada istilah Philosopia (Latin), dalam istilah Yunani Philien (mencintai), Philos (teman), sopos (bijaksana), dan Shopia (kebijaksanaan).
       Arti secara Etimologi dari filsafat
         Apabila filsafat mengacu pada asal kata Philein dan Sophos, maka artinya mencintai hal-hal yang bijaksana.
         Apabila filsafat mengacu pada asal kata Philos dan Sophia, maka artinya adalah teman yang bijaksana.
            Menurut sejarah, Phytagoras (572-497 SM) adalah orang pertama yang memakai kata Philosophia, dan menyebut dirinya sebagai Philosophos, yakni pecinta kebijaksanaan (lover of wisdom). Dengan cara demikian filsafat itu memiliki arti yang sangat umum,karena siphia tidak hanya di artikan sebagai kebijaksanaan, tetapi di artikan juga sebagai kerajinan, kebenaran pertama, pengetahuan yang luas, kebijakan intelektual, pertimbangan yang sehat, kecerdikan dalam memutuskan hal-hal praktis, yang intinya filsafat itu mencari keutamaan mental (the pursuit of mental exselence).
         Segi Metode
            Secara metode, filsafat di artikan sebagai cara berpikir secara reflektif (mendalam), dan metode berpikir seperti ini bersifat Inclusive (mencakup secara luas) dan Sinoptic (secara garis besar). Selain secara metode, filsafat juga sebagai analisa logis yang bertujuan untuk menyingkirkan kekaburan-kekaburan dengan cara menjelaskan arti istilah atau ungkapan yang di pakai dalam ilmu pengetahuan, misalnya dalam ilmu kimia, konsep dasarnya adalah subtansi (zat), Geometri yang bertalian dalam ruang dasar, Mekanika dengan konsep dasar gerak dan seterusnya.
         Hubungan Ilmu Dengan Filsafat
            Pada mulanya, ilmu yang pertama kali muncul adalah filsafat, dan ilmu-ilmu khusus adalah bagian-bagian dalam filsafat, sehingga filsafat juga di sebut sebagai “induk” atau “ibu” dari segala ilmu pengetahuan. Sehingga filsafat melahirkan cabang-cabang ilmu pengetahuan yang terkonsep oleh masing-masing pemikirnya, dan bertujuan untuk menjelaskan masing-masing dari apa yang di pikirkan, tetapi semua konsep cabang ilmu-ilmu tersebut tidak lepas dari filsafat, “anak tidak lepas dari induknya”.
         Persoalan Filsafat
            Lahirnya filsafat berasal dari kekaguman dan keheranan manusia pada kejadian alam, seperti gempa bumi, banjir, hujan dan sebagainya. Inilah yang menadi persoalaan yang menyebabkan timbulnya filsafat yang di peroleh jawabannya oleh para filsuf, jawaban persoalan itu di peroleh dengan melakukan refleksi (berpikir tentang pemikiran sendiri).
     Ciri-ciri persoalan filsafat:
         Bersifat secara umum, berarti persoalan yang berkaitan dengan ide-ide besar.
         Tidak menyangkut fakta, berarti persoalan filsafat lebih spekulatif.
         Bersangkutan dengan nilai-nilai (values), berarti persoalan filsafat yang berasal dari penilaian baik moral, estesiis, agama dan sosial. Nilai disini berarti suatu kualitas abstrak yang ada pada suatu hal.
         Bersifat kritis, artinya filsafat merupakan analisis secara kritis terhadap segala sesuatu.
         Bersifat sinoptik, artinya persoalan filsafat mencakup struktur kenyataan secara keseluruhan.
         Bersifat implikatif, artinya persoalan yang bersifat saling berhubungan.
         Cabang Filsafat
     Cabang filsafat di lihat dari pokok permasalahan yang di cari menakup tiga hal, yakn:
         Apa yang di sebut benar dan apa yang di sebut salah (logika)
         Mana yang di anggap baik dan mana yang di anggap buruk (etika)
         Apa yang termasuk indah dan apa yang termasuk jelek (estetika)
Cabang filsafat yang memiliki kajian yang lebih spesifik, antara lain:
         Epistemlogi (pengetehuan),
         Etika (filsafat moral),
         Estetika (filsafat seni),
         Metafisika,
         Politik (filsafat pemerintahan),
         Teologi (filsafat agama),
         Filsafat ilmu,
         Filsafat pendidikan,
         Filsafat hukum,
         Filsafat sejarah,
         Filsafat matematika.
       Selain persoalan yang di peroleh dengan melakukan refleksi, filsafat jiga memiliki persoalan yang lebih mendasar tentang nilai-nilai, diantaranya:
         Persoalan keberadaan (being) atau eksistensi (existance), persoalan ini bercabang tentang cabang filsafat Metafisika.
         Persoalan pengetahuan (knowliedge) atau kebenaran (truth), persoalan ini berkaitan dengan cabang filsafat epistimologi, sedangkan kalau di bentuknya, persoalan ini berkaitan dengan pesoalan logika.
         Persoalan nilai-nilai (values), persoalan ini berkaitan dengan tingkah laku (etika) dan berkaitan dengan keindahan (estetika).
         Metafisika
       Berasal dari bahasa Yunani Meta ta Physika yang artinya sesuatu yang berada di belakang benda-benda fisik (yang tidak bisa di panca indra).
Persoalan metafisis di bedakan menjadi tiga, yaitu:
         Persoalan Ontologis
Ada tiga pertanyaan yang mendasar pada persoalan Ontologis:
         Apa yang di maksud dengan ada, keberadaan (eksistensi)
         Bagaimana persoalan itu ada, keberadaan (eksistensi)
         Apa sifat dasar (nature) kenyataan atau keberadaan.
         Persoalan Kosmologi (alam)
Persoalan ini berkaitan pada asal muasal perkembangan dan struktur atau susunan alam
         Persoalan Antropologi (manusia)
Persoalan ini berkaitan dengan hubungan antara badan dan jiwa.
         Epistemologi
       Epistimologi juga di sebut sebagai teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimiologi, epistemologi berasal dari kata Yunani episteme yang artinya pengetahuan, logos yang artinya teori. Jadi secara terminologi, epistimologi adalah cabang filsafat yang mempelajari asal muasal, atau sumber, struktur, metode dan syahnya (vadilitas) pengetahuan. Persoalan epistemologi ini membahas tentang baagaimana pengetahuan itu di peroleh, bagaimana vadilitas pengetahuan itu dapat di nilai, dan bagaimana perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra-pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman).
         Logika
     Cabang filsafat yang berkaitan dengan kegiatan berpikir, secara etimologi, logika berasal dari kata Yunani logos yang artinya kata, nalar, teori, atau uraian. Secara termunologi logika merupakan kecakapan atau alat untuk berfikir secara luas. Logika ini memiliki dua objek, yakni objek material logika adalah pemikiran, dan objek pormal adalah kelurusan berpikir. Pada cabang filsafat ini, persoalan yang di hadapi adalah terletak pada pengertian (concept), putusan (proposition), dan penyimpulan (inference).
         Etika
     Etika juga di sebut filsafat moral (mo-ral philosophi). Secara etimologi, etika berasal dari kata Yunani ethos yang artinya watak, sedangkan dari kata latin adalah mos, bentuk tungga, sedangkan bentuk jamaknya adalah mores yang artinya kebiasaan. Persoalan dalam etika adalah bagaimana maksud dari baik dan buruk itu, dan bagaimana peranan hati nurani (conscience).
         Estetika
     Cabang filsafat ini juga di sebut filsafat keindahan (philosophy of beauty), secara etimologi, estetika berasal dari kata Yunani aisthetika yang artinya hal-hal yang dapat di serap dengan indra, atau  aisthesis  yang artinya cerapan indra. Persoalan pada estetika adalah bagaimana dan apa keindahan itu, apakah sifat keindahan sebagai subjektif atau sebagai objektif?, dan bagaimana hubungan aantara keindahan dan kebenaran.
         Aliran-aliran Filsafat
         Aliran dalam Persoalan Kebenaran
         Di Pandang dari Segi Jumlah
      Monisme (satu)
Aliran ini menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan Fundamental, kenyataan ini dapat berupa jiwa, materi, tuhan atau subtansi lainnya. Tokoh-tokohnya antara lain adalah Thales (625-545 SM) menyatakan subtansi adalah air, Anaximandros (610-547 SM) subtansi yang terdalam adalah apeiron (sesuatu yang tidak terbatas), Anaximenes (585-528 SM) menyatakan subtansi adalah udara. Selain filsuf Yunani kuno, filsuf modern yang menganut aliran Monisme adalah Baruch Spinoza yang menyatakan satu subtansi yaitu tuhan, dalam hal ini tuhan di identikkam dengan alam (naturans naturata).
      Dualisme (dua)
Aliran ini menyatakan dua subtansi yang berbiri sendiri. Tokoh-tokohnya adalah Plato (428-348 SM) yang membedakan dua dunia yaitu dunia indra (dunia bayang-bayang) dan dunia intelek (dunia ide), Descartes (1596-1650) yang membedakan subtansi pikiran dan subtansi keluasan, Leibniz (1646-1716) yang membedakan dunia yang sesungguhnya dan dunia yang mungkin, Immanuel Khan (1724-1804) yang membedakan antara dunia gejala (penomena) dan dunia hakiki (noumena).
      Pluralisme (banyak)
Aliran ini mengakui banyak subtansi. Tokoh-tokohnya yang termasuk pluralisme di antaranya Empedokles (490-430 SM) menyatakan hakekat kenyataan terdiri dari empat unsur yaitu udara, air, api, dan tanah. Anaxagoras (500-428 SM) menyatakan hakekat itu tidak terbatas banyaknya, dan semua itu tenaga yang di namakan nous (suatu yang paling halus) yang memiliki sifat pandai bergerak dan mengatur. Leibniz (1646-1716) menyatakan hakekat terdiri dari monade-monade yang tidak terhingga.
         Di Pandang dari Segi Sifat (kualitas)
      Spiritualisme
Aliran ini juga di sebut idealisme (serba cita). Tokoh-tokohnya diantaranya adalah Plato (430-348 SM) dengan ajaran idea (cita) dan jiwa, Leibniz (1646-1716) dengan teori monade yang sifatnya bergerak, menanggap, dan berpikir.
      Materialisme
Aliran ini juga disebut materi. Tokoh-tokohyna antara lain Demokritos (460-370 SM) yang berkeyakinan alam semesta tersusun atas atom-atom kecil yang memiliki bentuk dan badan, dan memiliki sifat yang sama. Thomas Hobbes (1588-1679) berpendapat bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan gerak dari materi.
         Di pandang dari Segi Proses
         Mekanisme (serba mesin)
         Teleologi (serba tujuan)
         Vitalisme
Memandang bahwa sesungguhnya kehidupan tidak dapat sepenuhnya di jelaskan secara fisika kimiawi. Filsafatnya Hans Adolf Eduard Driesch (1867-1940) menjelaskan setiap organisme memiliki entelechy, Henry Bargson (1859-1914) menyebutkan elan vital.
         Organisisme
Aliran ini menyatakan bahwa hidup adalah suatu struktur yang dinamik yang memiliki bagian-bagian yang heterogen, dan yang utama adalah adanya sistem yang teratur.
         Aliran dalam Persoalan Pengetahuan
         Rasionalisme
Berpandangan pada semua ilmu pengetahuan bersumber pada akal,dan kemudiabn di oleh akal sehingga menghasilkan pengetahuan.
         Empirisme
Berpendirian bahwa pengetahuan adalah berupa pengalaman.
         Realisme
         Kritisisme
         Aliran dalam Persoalan Nilai-nilai (etika)
         Idealisme etis
         Deontologisme Etis
Berpendirian bahwa suatu tindakan di anggap baik tanpa di sangkutkan denngan dengan nilai kebaikan suatu hal.
         Etika Teleologis
Menyatakan bahwa kebaikan atau kebenaran suatu tindakan sepenuhnya bergantung pada suatu tujuan atau suatu hasil.
         Hedonisme
Menganjurkan manusia untuk mencaapai kebahagiaan yang di dasarkan pada kenikmatan, kesenangan (pleasure)
         Utilitarisme
Pandangan yang menyatakan bahwa tindakan yang baik adalah tindakan yang menmbulkan kenikmatan atau kebahagiaan yang sebesar-besarnya bagi manusia yang sebanyak-banyaknya.
         Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
     Filsafat ilmu dalam bidang filsafat mencakup dua bidang, yaitu:
         Membahas tentang sifat pengetahuan ilmiah
         Menelaah cara-cara mengusahakan pengetahuan ilmiah.
     Filsafat ilmu di kelompokkan menjadi dua, yaitu:
         Filsafat Ilmu Umum
Mencakup tetang persoalan kesatuan, keseragaman, serta hubungan di antara segenap ilmu.
         Filsafat Ilmu Khusus
Membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang di gunakan dalam ilmu tertntu.
     Berdasarkan model di kelompokkan menjadi
         Filsafat Ilmu Terapan
Filsafat ilmu yang mengkaji pokok pikiran kefilsafatan, yang melatarbelakangi pengetahuan normatik dunia ilmu.
         Filsafat Ilmu Murni
Bentuk kajian filsafat ilmu yang dilakukan dengan menelaah secara kritis dan eksploratif terhadap materi kefilsafatan, membuka cakrawala terhadap kemungkinan berkembangnya pengetahuan normatik yang baru.
         Hubungan Filsafat Ilmu dengan Epistemologi
            Filsafat ilmu secara sistimatis merupakan cabang dari rumpun kajian epistemologi, epistemologi sendiri mempunyai dua cabang yaitu filsafat pengetahuan (theories of knowledge) dan filsafat ilmu (theory of science). Objek ilmu dan pengerahuan jika di lihat dari segi material memiliki perbedaan, objek material filsafat pengetahuan adalah gejala pengetahuan, sedangkan objek pengetahuan filsafat ilu adalah mempelajari gejala-gejala ilmu menurut sebab terpokok. Dalam epistemologi yang di bahas adalah objek pengetahuan, filsafat ilmu juga disebut sumber atau alat untuk memperoleh pengetahuan, kesadaran dan metode, vadilitas pengetahuan, dan keberadaan pengetahuan.
            Filsafat ilmu dan epistemologi ini sama-sama menunjukkan ilmu sebagai pengetahuan dan kemudian di telaah bagaimana gejala pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari, filsafat ilmu juga disebut sebagai sarana dan objek untuk memproses ilmu, harus selaras atau konsisten dengan karakter objek material ilmu. Ilmu di katakan benar secara epistemologi adalah bukanlah suatu yang di datangkan dari luar, melainkan hasil atau konsekuensi dari metode penyelidikan dan hasil penyelidikan.
         Asumsi Beberapa Jenis Objek Ilmu
1. Ilmu Alam dan Empiris
Ilmu empiris berpandangan pada objek alam, mempelajari gejala dan peristiwa yang menurut anggapannya mempunyai manfaat bagi manusia. Ilmu empiris mempunyai beberapa asumsi mengenai objek antara lain:
a. Menganggap objek-objek mempunyai keserupaan satu sama lain.
b. Menganggap bahwa suatu benda tidak pengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.
c. Menganggap tiap gejala bukan suatu kejadian yang bersifat kebetulan.
2. Ilmu Abstrak
3. Ilmu-ilmu Sosial dan Kemanusiaan
Ilmu sosial ini memcakup tentang tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari
4. Ilmu Sejarah
Ciri ilmu sejarah ini di bandingkan ilmu empiris terletak pada sifat objek materialnya yaitu data-data peninggalan masa lalu, baik berupa kesaksian, alat-alat, makam, rumah, tulisan, karya seni, dan sebagainya.
         Hubungan Filsafat dengan Ilmu
            Menurut Herbert Spencer (filsuf Inggris, 1820-1903 M) mengatakan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang menyatakan hal-hal yang ada (being) secara persial, sedangkan filsafat adalah pengetahuan yang menyatukan secara sempurna (universal). Sebelum ilmu dan filsafat berubah, bahwa sesungguhnyailmu pengetahuan muncul di antara dahan-dahan filsafat. Keterpisahan ilmu dengan filsafat di mulai sejak masa Yunani, ketika Matematika menjadi mandiri di tangan Eukledos (330-270 SM) dan Aschimedes (287-212 SM), Fisika di pisahkan dari filsafat oleh Galileo (1564-1642), Kimia oleh Lavoiser (1743-1794), dan Biologi yang di pisah oleh Claude Bernard (1813-1873), serta pada abat ke-20 yang menjadi saksi terpisahnya ilmu jiwa (psikologi) dari kajian filsafat. Tapi keterpisahan ini tidak mesti membuat ilmu dan filsafat saling bertolak belakang, bahwa pada era Konterporer ilmu dan filsafat saling melengkapi satu sama lain, karena filsuf pada era Kontenporer ini adalah para ilmuan. Oleh sebab itu, ilmu dan filsafat tidak bisa di pisahkan mesti ilmu dan filsafat berpisah jalan menurut pemikiran masing-masing.
         Kelebihan
            Buku ini sangat menarik, karena penggunaan kata-kata di dalam buku ini mudah untuk di pahami, meski banyak mengandung bahasa latin, tapi penjelasan yang di gunakan sangat praktis. Kelebihan buku ini terlihat pada pembahasan materi yang sangat detail, kosa kata yang praktis, dan dari segi penulisan sangat teratur dan sistimatis.
         Kekurangan
            Untuk kekurangan buku ini terletak pada pembagian cabang-cabang filsafat dan hubungan filsafat dengan ilmu yang tidak terlalu di jelaskan secara detail, sehingga membuat saya untuk mengambilkan sedikit penjelasan ringkas dari buku karya Dr. Fu’ad Farid isma’il dan Dr. Abdul Hamid Mutawalli yang berjudul “Cara Mudah Belajar Filsafat (Barat dan Islam)”, untuk melengkapi resensi penulisan saya. Dan selebihnya saya belum menemukan kekurangan buku tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar